Penyimpangan Akidah di Era Digital dan Solusinya

7–10 menit

Kemajuan teknologi di era modern membawa banyak manfaat bagi peradaban manusia. Terutama dengan berkembangnya internet, manusia dapat dengan mudah mengakses informasi yang diinginkan dengan hanya beberapa klik. Ditambah lagi, media sosial menjadi platform yang menyebarkan informasi secara luas dan tanpa batas. 

Bersamaan dengan itu, muncul berbagai tantangan bagi umat islam. Dari mulai media yang  mencap citra buruk kepada umat islam, media sosial juga menyebabkan terjadinya difusi budaya yang sering kali diterima oleh banyak orang islam secara mentah-mentah.

Salah satu masalah yang dapat dirasakan dari perkembangan teknologi ini adalah, penyimpangan akidah yang diakibatkan oleh syubhat yang tersebar secara bebas di dunia maya. Penyimpangan akidah tersebut muncul dalam banyak bentuk, yang diantaranya sengaja dibuat sehingga terlihat seperti pemikiran baru yang lebih modern.

Bentuk – bentuk penyimpangan akidah tersebut antara lain:

  1. Ateisme

Ateisme adalah paham yang mempercayai ketiadaan Tuhan. Mereka yang menganut ajaran ini percaya bahwa dunia ini ada tanpa ada yang menciptakan, berjalan tanpa ada yang mengatur.

Ateisme datang dari keragu-raguan atas keberadaan Tuhan yang disebabkan karena mereka mengedepankan logika mereka. Mereka mendatangkan syubhat yang dikemas sehingga terlihat seperti hal yang logis padahal sangat menyesatkan.

Terkadang mereka menggunakan ilmu pengetahuan untuk memperkuat argumen mereka. Seperti ketika mereka menafikan keberadaan Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan menggunakan teori big bang sebagai argumen mereka. Padahal, ilmu pengetahuan seharusnya membuat kita lebih percaya terhadap keberadaan Tuhan.

Berikut beberapa syubhat yang sering dibawakan oleh orang-orang atheis dan jawabannya:

  1. Jika Tuhan yang menciptakan alam semesta, maka siapa yang menciptakan Tuhan?

Secara logika argumen ini keliru. Allah (Tuhan) tidak diciptakan, jika ada yang menciptakan Allah maka pertanyaannya akan berlanjut, “siapa yang menciptakan pencipta Allah?” dan akan terus berlanjut tanpa ujung. Jika segala sesuatu harus diciptakan oleh sesuatu sebelumnya maka tidak ada titik awal, dan ini tidak selaras dengan logika.

Bayangkan dalam sebuah perusahaan, seorang pegawai ingin mengambil cuti dan meminta izin kepada atasannya. Tapi ternyata, atasannya tidak bisa memberi izin sebelum mendapat persetujuan dari atasannya lagi. Lalu atasannya yang kedua juga harus meminta izin dari atasannya yang ketiga, dan begitu seterusnya tanpa akhir. Apakah pegawai itu akan mendapat izin? Tentu tidak. Karena tidak ada titik akhir yang bisa mengambil keputusan.

Sama halnya dalam penciptaan. Jika ada yang menciptakan Allah, lalu menciptakan pencipta Allah, maka rantainya tidak akan berhenti dan maka tidak akan ada alam semesta, tapi nyatanya kita manusia, bagian dari alam semesta ada. Maka, harus ada awal dari segala sesuatu. Tidak diciptakan dan Maha Menciptakan, Itulah Allah Al Khaliq (Yang Maha Menciptakan).

  1. Allah tidak dapat dilihat, artinya Allah tidak ada

Tidak semua yang tidak bisa dilihat tidak ada. Gravitasi, gelombang elektromagnetik, bahkan akal dan pikiran tidak bisa dilihat oleh manusia, tetapi kita tahu persis bahwa hal-hal tersebut nyata dan ada.

Lalu kenapa kita tahu hal-hal tersebut ada dan dan nyata? Karena kita dapat merasakan keberadan hal-hal tersebut. Kita jatuh kebawah karena ada gravitasi. Kita mempunyai pikiran dan akal. Itu semua cukup untuk membuktikan bahwa hal-hal itu ada.

Dengan begitu, seharusnya keberadaan Allah tidak perlu diragukan. Kita hidup disini sampai detik ini, karena Allah. Bumi dan langit yang sangat luas itu, bergerak teratur atas kehendak Allah.

Banyak sekali bukti keberadaan Allah di depan mata kita. Dengan begitu, kita tidak perlu melihat-Nya untuk beriman kepada-Nya.

  1. Alam semesta terbentuk karena kebetulan (Big Bang)

Sebagian kaum ateis menggunakan teori big bang sebagai argumen terhadap terciptanya alam semesta tanpa Tuhan. Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta awalnya adalah sebuah titik kecil di tengah kehampaan, yang kemudian meledak dan membentuk alam semesta, materi dan ruang dan waktu.

Mereka membawakan penelitian-penelitian yang menggambarkan bagaimana alam semesta bisa terbentuk dengan sendirinya. Padahal, sekalipun benar, teori Big Bang hanya menjelaskan proses terbentuknya alam semesta. Hal ini tidak meniadakan fakta bahwa Allah dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan. 

Meskipun, kita sebagai seorang muslim, ketika berbicara tentang hal ghaib termasuk asal penciptaan alam semesta harus kembali kepada apa yang dikabarkan kepada kita melalui Al-Quran dan Hadist. Sehingga jika ada perbedaan antara sains dan Al-Quran kita sebagai muslim harus mendahulukan wahyu. Sains digunakan sebagai alat untuk memahami dan mempelajari wahyu sehingga kita dapat memahami ciptaan Allah dan meningkatkan iman kita.

Selain dari syubhat-syubhat di atas, masih banyak lagi syubhat lainnya yang mereka lancarkan untuk menyesatkan umat islam. Selain atheisme, ada juga aliran lainnya seperti agnostik (agnotisisme) yang menyatakan bahwa keberadaan tuhan itu tidak dapat diketahui, yang kurang lebih syubhatnya sama.

     2. Sekularisme

Sekuler secara bahasa artinya duniawi. Dengan kata lain, Sekularisme adalah paham yang mengedepankan urusan dunia daripada agama.  Mereka memisahkan urusan pemerintahan, politik, perdagangan, dan hal duniawi lainnya dari unsur-unsur agama.

Sekularisme pertama kali muncul di akhir abad-17 dan awal abad-18. Pada masa itu gereja menjadi pusat politik dan pemerintahan. Otoritas gereja pada masa itu bahkan bisa melebihi raja. Selain itu, mereka juga menarik pajak dan dapat menghukum siapapun yang bertentangan dengan ajaran mereka.

Oleh sebab itu, orang-orang pada masa itu mulai melakukan perlawanan dengan memisahkan agama dengan urusan duniawi (sekularisme).

Di zaman sekarang, banyak orang yang menjadikan sekularisme sebagai fondasi kehidupan mereka. Padahal, Allah menurunkan syariat islam bukan agar manusia bisa beribadah kepada-Nya saja. Melainkan agar menjadi pedoman hidup manusia di dunia. Allah yang telah menciptakan manusia, maka Allah lah yang paling tahu solusi dari masalah-masalah yang dialami manusia.

Syariat islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak terbatas pada urusan ibadah saja, tapi juga solusi dari masalah-masalah di dunia, mulai dari rumah tangga, pekerjaan, bisnis, hingga politik dan pemerintahan. Itu semua telah diatur agar manusia dapat menghadapi setiap masalahnya.

Sebagai contoh, dalam hal ekonomi dan perdagangan, islam mengajarkan prinsip keadilan dan kejujuran, kejelasan dalam akad, dan mengharamkan riba. Juga, mewajibkan zakat bagi orang-orang yang mampu untuk diberikan kepada orang fakir miskin. Dalam kehidupan rumah tangga, islam mengatur hak dan kewajiban antara suami-istri, anak-orang tua maupun sebaliknya. Sehingga, terbentuk rumah tangga yang harmonis. Dalam hal politik dan pemerintahan, islam memerintahkan untuk menaati pemimpin selama bukan kemaksiatan. Islam juga menentukan hukuman kepada tindak kriminal yang tegas sekaligus adil.

Dengan demikian, sudah jelas bahwa sekularisme yang memisahkan urusan dunia dan agama sangat bertentangan dengan syariat islam yang sempurna dan menyeluruh.

     3. Pluralisme

Pluralisme berasal dari kata plural yang artinya banyak/jamak. Secara umum pluralisme adalah paham yang mengakui bahwa semua agama itu sama. Mereka mengakui bahwasanya tidak ada agama yang lebih benar dari yang lain, tidak ada yang lebih baik dari yang lain, dan bahwa semua agama itu diterima di sisi tuhan atau semua agama akan mendatangkan keselamatan di akhirat. 

Pluralisme bertentangan dengan syariat islam, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah islam (Ali-Imran:19)” 

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

”Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Islam memang mengajarkan kita untuk bertoleransi dengan agama lain. Akan tetapi, islam juga mengajarkan batasan-batasannya sehingga kita tidak berlebihan dalam hal itu.

Penyimpangan akidah di atas dapat menyebar lebih cepat dan lebih luas akibat perkembangan teknologi. Salah satu perkembangan teknologi yang menjadi sarana persebaran penyimpangan akidah adalah media sosial. 

Media sosial menjadi tempat berkembangnya pikiran-pikiran yang menyelisihi akidah islam. Oleh karena itu, perlunya pemahaman kita terhadap penyimpangan tersebut supaya kita bisa menghindarinya.

Untuk bisa menghindari penyimpangan akidah, kita harus mengetahui sebab terjadinya penyimpangan akidah itu sendiri terlebih dahulu. Dari Kitab Tauhid karya Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dijelaskan sebab dari penyimpangan akidah adalah:

  1. Kebodohan, yaitu kebodohan terhadap akidah yang benar, karena tidak mau mempelajarinya atau kurangnya perhatian terhadapnya. Juga disebabkan kurangnya perhatian generasi sebelumnya dalam mengajarkan generasi berikutnya tentang akidah yang benar sehingga tumbuh generasi yang tidak mengetahui mana kebenaran dan mana kebatilan.
  2. Ta’ashshub (Fanatik), yaitu fanatik dengan ajaran nenek moyang sekalipun itu salah, dan sebaliknya menolak kebenaran hanya karena tradisi.
  3. Taklid Buta, mengikuti ajaran orang lain tanpa memahami dasar atau dalilnya. Seperti halnya, golongan Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka mengikuti pikiran pemimpin-pemimpin mereka yang sesat tanpa mencari tahu kebenarannya, sehingga mereka ikut tersesat.
  4. Ghuluw (Berlebihan), yaitu berlebihan dalam mencintai para wali, orang soleh, pemimpin, dan sebagainya sehingga mengangkat mereka melebihi yang seharusnya.
  5. Ghaflah (Lalai), yaitu lalai dalam merenungi ayat-ayat Allah baik yang Kauniyah maupun Qauliyyah. Lalainya seseorang dalam memperhatikan kebesaran Allah dapat membuatnya lupa akan keberadaan sang pencipta, atau menganggap semua kemajuan yang dialami manusia adalah hasil kerja keras manusia semata.
  6. Kurangnnya pengarahan yang benar dalam rumah tangga. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” Berarti, orang tua sangat berperan penting dalam meluruskan akidah anak-anaknya.
  7. Media pendidikan dan media informasi yang tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama terutama akidah. Seperti yang sudah dibahas, media sosial sebagai tempat bertebarnya informasi, berisikan konten-konten yang tidak bermanfaat, dan bahkan menyesatkan. 

Setelah kita mengetahui sebab terjadinya penyimpangan akidah, berikut adalah cara agar kita bisa terhindar dari penyimpangan akidah:

  1. Mendalami ilmu agama, yaitu mempelajari akidah yang benar dari  Al-Quran dan As-Sunnah. Juga mempelajari syubhat-syubhat dari akidah yang menyimpang sehingga kita dapat membantah dan berhati-hati terhadapnya. 
  2. Mencari lingkungan dengan pemahaman akidah yang lurus dan bergaul dengan teman-teman yang sholeh, supaya kita dapat mempertahankan akidah kita dengan bergaul bersama mereka.  Selain itu kita juga bisa menjauhi tempat-tempat yang diisi oleh orang-orang yang sesat, juga menjauhi tontonan yang menyesatkan di media sosial.
  3. Edukasi kepada generasi selanjutnya tentang akidah yang benar, dan syubhat yang menyesatkan di era digital. Bisa dimulai dari mendidik anak di rumah, mendidik murid di sekolah, atau membuat konten dakwah di media sosial.
  4. Menggunakan media digital dengan bijak. Yaitu dengan mencari tahu kebenaran informasi yang didapat sebelum menyebarkannya, Menghindari konten-konten yang menyesatkan, dan mengurangi penggunaan gadget untuk hal yang tidak berguna.
  5. Meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena Dialah yang memegang hati-hati manusia dan mampu membolak-balikannya sesuai kehendak-Nya. Jadi, hanya Allah lah yang mampu menolong kita dan melindungi kita dari penyimpangan akidah yang semakin merajalela.

0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Tafakkur Media

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca