5 Teguran Allah Kepada Nabi Dalam Al-Qur’an

5–8 menit

Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, baik dalam ucapan maupun tindakan. Kesalahan adalah bagian dari fitrah manusia, dan justru dari kesalahan itulah kita belajar untuk memperbaiki diri. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling mulia yang diutus Allah, pernah ditegur langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an ketika beliau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Teguran ini bukanlah bentuk celaan, melainkan bimbingan agar beliau dan umatnya senantiasa berada di jalan yang benar.

Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam memiliki sifat maksum, yang berarti terjaga atau terlindungi. Maksudnya adalah, terlindungi dari kesyirikan dan dosa besar. Meskipun begitu, Nabi Muhammad tetaplah manusia yang bisa keliru dalam berbuat. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menegur nabi-Nya ketika ia berbuat salah, bahkan beberapa kali Allah menegur langsung Nabi Muhammad dalam Al-Quran. 

Teguran itu menunjukan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam adalah manusia biasa yang dapat berbuat kesalahan. Akan tetapi ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang spesial karena mendapat  teguran langsung dari Allah.

  1. Teguran Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 1 tentang mengharamkan apa yang Allah halalkan

اَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati-hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.”

Ada dua pendapat mengenai Asbabun Nuzul (sebab turun) ayat ini. Dimana, dikisahkan bahwa Nabi bersumpah tidak akan menggauli budaknya yaitu Mariah Al-Qibtiyyah untuk menyenangi hati istrinya.

Dalam riwayat lain diceritakan bahwasannya Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam meminum madu di rumah Saudah istrinya. Lalu ketika beliau datang ke rumah Aisyah maka Aisyah berkata “Aku mencium bau yang tidak sedap”. Kemudian Rasulullah datang kerumah Hafshah maka Hafshah pun mengatakan hal yang sama. Rasulullah bersabda: “Barangkali bau tersebut berasal dari minuman (madu) yang diminum di rumah Saudah. Demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi.” 

Dijelaskan dalam kitab tafsir Al-Muyassar bahwa Al-Hafizh ibnu Hajar berkata, keduanya bisa menjadi sebab turunnya ayat ini. Dari kedua kisah di atas pelajaran yang dapat kita ambil adalah larangan dalam mengharamkan apa yang Allah halalkan, karena itu bentuk rasa syukur kita atas nikmat yang Allah berikan. 

Selain itu, kita juga harus berhati-hati dalam menyenangkan orang lain, baik itu pasangan kita, anak, orang tua atau pun teman. Tentu, menyenangkan hati sesama muslim adalah hal yang baik, tetapi kita tidak boleh berlebihan dalam melakukannya.

  1. Teguran Allah pada Surah Abasa ayat 1-10 tentang Nabi yang bermuka masam kepada sahabatnya

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١﴾  أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ﴿٢﴾  وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ﴿٣﴾  أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ﴿٤﴾  أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ ﴿٥﴾  فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ ﴿٦﴾  وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ ﴿٧﴾  وَأَمَّا مَن جَاءَكَ يَسْعَىٰ ﴿٨﴾ وَهُوَ يَخْشَىٰ ﴿٩﴾  فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ      

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling (1) karena telah datang kepadanya seorang buta (2) dan tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (3) atau dia ingin mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya (4) adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (5) maka kamu melayaninya (6) padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (7) dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (8) sedang dia takut kepada Allah (9) maka kamu mengabaikannya ”

Diceritakan pada banyak kitab tafsir salah satunya dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, bahwa ayat ini turun di kota mekkah di awal-awal dakwah islam. Pada masa itu Nabi sudah memulai dakwahnya secara terang-terangan. Pada suatu hari, Nabi mendatangi pertemuan para pembesar Quraisy. Nabi datang kesana dengan niat untuk mendakwahi mereka, dengan harapan jika mereka menerima islam maka kaumnya pun akan ikut menerima islam.

Di saat itulah Abdullah bin Ummi Maktum, datang kepada Nabi untuk belajar. Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan fisik berupa buta pada matanya, yang membuatnya tidak menyadari kesibukan Nabi kala itu.

Namun kedatangannya tidak disambut dengan ramah oleh Nabi, bahkan Nabi berpaling darinya dan bermuka masam. Padahal Abdullah bin Ummi Maktum datang dengan niat yang murni untuk menuntut ilmu, sedangkan para petinggi itu belum tentu akan menerima dakwah Nabi.

Maka turunlah ayat ini sebagai teguran kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, bahwa hidayah ada di tangan Allah, tugas Nabi hanya berdakwah, tidak ada celaan jika mereka menolak dakwahnya. Tetapi disisi lain, Abdullah bin Ummi Maktum datang dengan hati yang siap menerima kebenaran islam, maka seharusnya dia yang didahulukan.

  1. Teguran Allah pada Surah Al-Anfal ayat 67 tentang tawanan perang

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Tidak pantas bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dikisahkan di kitab Tafsir Ibnu Katsir, pada perang badar, ketika umat islam menang atas pasukan Quraisy, Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menawan dari pasukan musuh yang tersisa. Lalu Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk menyikapi para tawanan. Lalu Umar bin Khattab berkata “Ya Rasulullah, bunuhlah mereka” sedangkan Abu Bakar berkata “Mereka adalah kaum mu dan keluargamu, maka lepaskanlah.” Maka Nabi melepaskan mereka dengan tebusan. Maka turunlah ayat diatas, yang menegur keputusan nabi untuk membebaskan para tawanan untuk harta dunia padahal mereka sebelumnya berusaha untuk menghancurkan islam dengan keluar berperang.

Padahal dengan membunuh mereka, kekuatan orang-orang musyrik akan melemah. sementara itu harta yang didapat dari tebusan tersebut hanyalah sementara sebagaimana harta kekayaan lainnya.

  1. Teguran Allah pada Surah At-Taubah ayat 43 tentang orang-orang munafik

عَفَا اللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka, sebelum jelas bagimu siapa yang benar dan sebelum engkau mengetahui siapa yang berdusta.”

Dalam kitab Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Amr bin Maimun Al-Azadi bahwa ayat ini turun berkenaan tentang orang-orang munafik yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang. Nabi pun mengizinkan mereka untuk tidak berperang sebelum datang perintah dari Allah. 

Mereka yang meminta izin bukanlah orang yang beriman, karena orang yang beriman tidak akan meminta izin untuk tidak ikut berjihad di jalan Allah. Mereka memang tidak berniat untuk bangung dari tempat duduk mereka untuk membela agama Allah. Jika tidak diizinkan sekalipun mereka tetap tidak akan pergi berperang.

  1. Teguran Allah pada Surah Al-Kahfi ayat 23-24 tentang ucapan InsyaAllah

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi” (23) kecuali dengan mengatakan, “Insya Allah”. Dan ingatlah Tuhanmu apabila kamu lupa, dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (24)”

Ayat ini turun setelah seseorang bertanya tentang kisah pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi) kepada Nabi. Lalu Nabi bersabda: “Besok aku akan menjawab pertanyaan kalian.” Tetapi, wahyu tidak turun sampai 15 hari kemudian. Maka Allah turunkan ayat ini sebagai pelajaran, bahwa Nabi tidak mengetahui masa depan, maka ucapkanlah InsyaAllah. Hal tersebut dikisahkan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir.

Dari ayat-ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam juga bisa berbuat kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Tetapi yang berbeda adalah, dari kesalahan-kesalahan tersebut Allah memberikan teguran secara langsung kepada Rasul-Nya melalui Al-Qur’an. Bukan untuk mempermalukannya, melainkan untuk dijadikan pelajaran bagi umatnya. 

Hal ini juga menunjukkan keaslian Al-Quran sebagai wahyu dari Tuhan, bukan karangan manusia sebagaimana tuduhan orang-orang musyrik. Karena tidak mungkin, jika Nabi menyusun Al-Qur’an sebagai teguran kepada dirinya sendiri.


0

Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Tafakkur Media

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca